Jumat, Oktober 23RG

Menggapai Masa Depan Cerah dan Berkah dengan Asuransi Syariah

Ratna benar-benar wanita yang beruntung memiliki suami sebaik Wawan. Punya sikap yang baik, tutur kata lembut, setia, pekerja keras dan bertanggung jawab.

Sejak menikah beberapa tahun yang lalu, Wawan telah melakukan perannya sebagai suami dengan baik. Ia memberikan nafkah, memberikan kesempatan kepada Ratna untuk menjadi full time mother dan bertanggung jawab atas pernikahan mereka.

Meski tidak hidup mewah, mereka bahagia dan saling cinta. Kebahagaiaan mereka pun makin sempurna dengan kehadiran buah hati. Satu mau masuk sekolah, satu lagi masih bayi.

Sempurna. Sungguh sempurna. Tapi takdir sering tak bisa diduga.

Karena kecelakaan kerja, Wawan kembali ke rumah tanpa memiliki nyawa. Siapa sangka, maut tak pilih-pilih berdasarkan usia. Bahkan yang tampak muda pun bisa tiba-tiba putus usia.

Tentu Ratna sedih. Tapi duka bahkan belum juga mereda, ia sudah harus dihadapkan pada tuntutan kehidupan nyata. Biaya hidup, kontrakan, sekolah anak, susu bayi, dan banyak lagi lainnya.

Hanya dalam sekejapan mata, betapa mudahnya roda kehidupan mengubah semuanya.

Kebutuhan Asuransi Jiwa Syariah

Ratna tidak sendiri. Ada banyak keluarga lain di Indonesia yang mengalami keadaan yang serupa. Berdasarkan BPS, ada 37% perempuan di atas 15 tahun yang berperan full time mengurus rumah tangga.

Ini merupakan tipikal keluarga Indonesia. Di mana laki-laki berperan sebagai pencari nafkah dan perempuan mengurus rumah tangga. Klasik memang, tapi banyak, dan masih akan cenderung banyak berdasarkan kebiasaan dan budayanya.

Mereka semua menanggung risiko yang sama: tatkala pencari nafkah utama keluarga meninggal atau cacat, taraf kehidupannya langsung menurun drastis.

Sebabnya mungkin bukan karena kecelakaan kerja. Bisa karena kecelakaan jalan raya, aksi kriminal, penyakit, atau bahkan karena pandemi seperti yang sedang terjadi saat ini.

Dan risiko tersebut sebenarnya cukup besar. Karena dari rerata 10.000 kasus perceraian, 2.000-nya merupakan kejadian cerai mati. Ketika  itu terjadi, apakah Ratna atau wanita lainnya tersebut siap?

Bukan hanya masalah siap kehilangan, tapi juga siap menjalani kehidupan setelahnya. Siap untuk menghidupi anak-anaknya. Inilah kenapa Indonesia butuh asuransi jiwa.

Bukan hanya sekedar asuransi jiwa biasa. Sebagai negara yang mayoritas muslim (80% berdasarkan data terbaru), tingkat religiusitas masyarakat Indonesia sangatlah tinggi.

Apalagi tren untuk menjauhkan diri dari kehidupan ribawi semakin meningkat, baik di kalangan boomer maupun milenial. Di media sosial sering kita temukan grup atau komunitas anti riba. Ini membuat kebutuhan asuransi juga harus memenuhi prinsip syariah.

Ketentuan mengenai asuransi syariah ini sebenarnya telah diatur oleh Dewan Syariah Nasional MUI melalui Pedoman Umum Asuransi Syariah sejak tahun 2001. Di dalamnya termasuk mengenai akad ijarah (komersial) dan tabarru’ dengan tujuan kebajikan dan saling tolong menolong.

Dengan demikian, asuransi syariah ini tak hanya menjadi jawaban atas kebutuhan proteksi orang-orang tercinta, tapi juga untuk kehidupan yang berkah sesuai aturan-Nya.

Peran Asuransi Jiwa Syariah di Masa Modern

Berkembangnya peradaban manusia tak hanya meningkatkan taraf hidup, tapi juga risiko kematian.

Dulu risiko pekerjaan mungkin terbatas pada pekerjaan-pekerjaan berat dan jauh, seperti di laut atau hutan. Saat ini, bahkan yang tinggal di dalam ruangan pun memiliki risiko kematian yang cukup tinggi.

Contohnya tenaga kesehatan di rumah sakit yang setiap hari berjibaku dalam ancaman infeksi penyakit menular. Apalagi di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

Kehilangan sumber penghasilan tak hanya karena risiko kematian, tapi juga sakit kronis atau cacat menetap. Yang mana di era sekarang ini, potensi untuk terkena hal tersebut semakin meningkat.

Beruntung golongan masyarakat menengah ke atas yang memiliki kemampuan untuk menyimpan cadangan dana dalam cukup besar. Untuk golongan menengah bawah? Proteksi bersama secara gotong royong menjadi jawabannya.

Di sinilah pentingnya asuransi jiwa syariah. Prinsip saling tolong menolong dalam kebaikan (tabarru’) menjadi kunci dari proteksi ini.

Cerah dan Berkah dengan Asuransi Jiwa Syariah

Lalu, apakah hanya golongan kelas sosial menengah ke bawah yang membutuhkan asuransi jiwa syariah?

Tentu tidak. Selain prinsip tolong menolong dalam kebaikan, asuransi jiwa syariah juga memiliki kebaikan lainnya.

Pertama, bebas riba. Ini menjadi konsen utama bagi umat islam yang mendambakan hidup sesuai tuntunan agama. Tak hanya dari akadnya saja, tapi juga dari alokasi investasi yang hanya ditujukan pada instrumen investasi syariah.

Kedua, adanya kesempatan untuk berinvestasi secara syariah. Ini tentu penting bagi masyarakat yang telah melek finansial dan memahami tentang inflasi. Dengan investasi, risiko kehilangan nilai uang akibat inflasi menjadi hilang.

Ketiga, tak hanya risiko yang dibagi dengan prinsip tabarru’. Dana tabarru’ juga memungkinkan untuk diinvestasikan dalam instrumen halal dan syar’i. Yang mana akan menghasilkan rejeki untuk dibagi, yang dinamakan surplus underwriting.

Dengan kebaikan-kebaikan tersebut, asuransi jiwa syariah menjadi kunci menuju masa depan cerah dan berkah. Baik untuk proteksi kehidupan di dunia maupun setelahnya.

Asuransi Jiwa Syariah Pas Untuk Milenial

Adanya proteksi dan surplus underwriting menjadikan asuransi jiwa syariah tak hanya bermanfaat untuk boomers, tapi juga generasi milenial. Apalagi industri asuransi jiwa syariah saat ini semakin kreatif dengan menawarkan beragam benefit lain.

Misalnya unit link syariah dengan kebebasan memilih jenis investasi sesuai profil risiko. Generasi milenial yang melek investasi akan mendapatkan keuntungan proteksi dan investasi sekaligus.

Ada juga benefit untuk withdrawal sebagian, yang mana proteksi ini dapat berperan juga sebagai tabungan. Sudah dapat proteksi, bisa jadi tabungan maupun investasi pula.

Dan satu lagi terobosan yang sangat baik, yaitu adanya kesempatan untuk cuti kontribusi. Ini tentu sangat patut diapresiasi karena seringkali hidup tidak selalu di bagian atas roda. Ada juga masa-masa sulit. Pandemi Covid-19 ini salah satu contohnya.

Benefit yang kreatif ini tentu semakin membuat asuransi jiwa syariah menjadi pilihan yang paling pas untuk generasi milenial.

Bayangkan, dalam sekali dayung, 3 manfaat bisa didapat: proteksi, tabungan, dan investasi. Ditambah dengan fleksibilitas untuk cuti kontribusi, asuransi jiwa syariah akan semakin menarik hati.

Penutup

Ada sebuah ayat di dalam surat Ali Imran yang menyuruh manusia agar khawatir untuk meninggalkan orang-orang yang disayangi dalam keadaan lemah. Baik lemah ilmu, lemah iman, lemah fisik, maupun lemah ekonomi.

Tidak ada orang yang mau meninggalkan orang-orang yang ia cintai. Tapi lebih tidak ada lagi orang yang mau meninggalkan mereka dalam kesusahan.

Untuk itu, proteksi dan investasi menjadi satu hal yang sangat penting. Jika tidak bisa melakukannya sendirian, kita dapat melakukannya bersama-sama dengan saling tolong menolong. Asuransi jiwa syariah menjadi upaya yang tepat untuk melindungi masa depan keluarga tercinta. Dengan tambahan benefit yang kreatif, ia menjadi kunci bagi masa depan yang cerah dan berkah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *